|
|
|
|
Pertempuran Manzikert |
|
|
|
|
|
|
|
|
Tanggal |
26 Agustus 1071 |
|
Lokasi |
Manzikert, Armenia (sekarang : Malazgirt, Turki) |
|
Hasil |
Kemenangan Turki Seljuk secara telak |
|
Pihak yang terlibat |
|
|
Kekaisaran Byzantine |
Kesultanan Turki Seljuk |
|
Pemimpin |
|
|
Romanus IV #, |
Alip Arselan |
|
Kekuatan Militer |
|
|
Lebih dari 70.000 total |
20.000 – 30.000 total |
|
Akhir Pertempuran |
|
|
8.000 meninggal |
Tidak diketahui, tapi jauh lebih sedikit |
Latar Belakang
Kekaisaran Byzantine masih merupakan suatu kekuatan besar di abad pertengahan. Akan tetapi, sedikit demi sedikit mulai turun akibat ketidak mampuan Kaisarnya menangani urusan militer (dimulai sejak Constantine IX dan Constantine X). Pada pemerintahan Constantine IX inilah untuk pertama kalinya Byzantine mengalami kontak dengan Turki Seljuk yang ingin meluaskan pengaruhnya di Armenia.
Tahun 1063 Alip Arselan naik tahta Kesultanan Turki Seljuk, dia memperbolehkan suku Turki dan Kurdi yang merupakan sekutunya untuk menempati wilayah Armenia dan Asia Minor. Selanjutnya, tahun 1064 Ani (ibukota Armenia) jatuh ketangan Turki, dan seluruh Armenia tahun 1067, diikuti kota Caesarea.
Tahun 1068 Romanos IV Comnemus naik tahta Kekaisaran Byzantine yang langsung menyiapkan ekspedisi melawan Turki. Pada awalnya semua berjalan lancar dengan jatuhnya kota Hierapolis dan diikuti keberhasilan menahan gempuran Turki di Iconium. Ekspedisi kedua dilanjutkan tahun 1070 dimana Romanos menuju benteng Manzikert yang sudah dikuasai Turki.
Sambil menyiapkan pasukannya, Romanos menawarkan barter antara kota Manzikert dengan Hierapolis, akan tetapi ditolak oleh Alip Arselan. Penolakan inilah yang berujung pada perang Manzikert.
Formasi Pasukan
Byzantine
Kaisar Romanos didampingi oleh Andronicus Doukas dengan tentara campuran antara Byzantine Thematic, Varangian Guard, Armenia dan tentara bayaran (Frankish, Norman, Bulgaria) berjumlah 60.000 sampai 70.000. Penggunaan tentara bayaran sudah lazim, dikarenakan ketakutan Kaisar akan tentaranya sendiri yang berpotensi melakukan kudeta.
Perjalanan menuju Asia Kecil sangat berat dan Kaisar tidak dapat memberikan kesan yang baik pada tentaranya karena menggunakan kereta mewah. Penduduk byzantine sendiri ikut menderita akibat ulah tentara bayarannya sendiri dari Frank. Tahun 1071 tentara sudah mencapai Theodosiopolis, disini terjadi perdebatan pendatan dimana sebagian Panglima ingin meneruskan perjalanan sampai masuk wilayah Turki, sedangkan lainnya (termasuk Nicephorus Bryennios) memilih menunggu kedatangan Turki sambil membuat pertahanan. Pada akhirnya perjalanan tetap diteruskan.
Romanos berspekulasi bahwa tentara Alip Arselan masih sangat jauh atau malah tidak berani datang melawan, sehingga tentaranya diinstruksikan untuk menaklukan Manzikert dan benteng Khliat sekaligus. Panglima Joseph Tarchaneiotes bersama tentara byzantine, Varangian didukung oleh Pacheneg dan Franks menuju Khliat, sedangkan Romanos bersama sisa tentaranya menuju Manzikert. Akibat pemecahan ini, tentara yang bersama Romanos tinggal separuh dari total awal tentaranya (60-70.000 orang).
Seljuk
Alip Arselan – tidak seperti perkiraan Romanos – sudah berada di Armenia dengan 30.000 kavaleri dari sekutu-sekutunya (Aleppo, Mosul dan lainnya). Sambil terus bergerak, Alip menyebar mata-mata untuk mengawasi pergerakan pasukan Byzantine. Pasukan utama Seljuk terdiri dari Kalaveri yang dilengkapi dengan panah, sehingga strategi yang dikembangkan adalah hit-and-run (sebagaimana pasukan-pasukan steppe, seperti Turks dan Mongol).
Jalannya Pertempuran
Skirmisher Awal
Romanos dengan mudah menguasai Manzikert pada 23 Agustus, yang dibalas dengan serangan dari pemanah Seljuk. Hari berikutnya, Bryennios memergoki keberadaan tentara utama Seljuk pada saat mencari bahan makanan dan terpaksa mundur kembali ke Manzikert. Romanos mengirim Kavaleri dipimpin oleh Basilaces untuk mengecek informasi tersebut, akan tetapi pasukan ini dihancurkan dan pemimpinnya ditangkap.
Romanos menolak ajakan damai dari Seljuk dengan dua alasan : dia menginginkan kemenangan gilang gemilang militernya atas Seljuk dan mengetahui bahwa untuk mengumpulkan pasukan sebesar ini dilain waktu akan sangat sulit dan mahal. Sementara itu, Romanos juga berusaha memanggil Tarchaneiotes untuk menggabungkan kekuatan, akan tetapi sudah tidak ada cukup waktu lagi.
Laga Utama
Tanggal 26 Agustus, pasukan Byzantine bergerak maju dengan formasi konvensional, yaitu pasukan inti ditengah dengan Romanos sebagai pemimpinnya, di sokong oleh sayap kanan (Theodore Alyates) dan sayap kiri (Bryennios), sementara itu Andronikos Doukas memimpin pasukan cadangan di belakang (hal ini merupakan blunder Romanos, karena Doukas adalah musuh politiknya). Sementara itu, 4 kilometer di depan, Seljuk sudah bersiap dengan formasi bulan sabit dimana Arselan mengamati dan memberikan komando di tempat yang aman.
Begitu pasukan Byzantine semakin mendekat dan memasuki aerial tembakan, pemanah-pemanah Seljuk terus-menerus melepaskan hujan anak panah. Formasi bulan sabit dirancang sedemikian rupa sehingga saat pasukan Byzantine mendesak, maka bagian tengah formasi Seljuk akan mundur dan menjaga jarak sambil tetap menembakkan panah, sedang sayap sabit terus bergerak maju dengan tujuan mengepung tentara Byzantine.
Pasukan Byzantine terus maju sambil menahan gempuran panah, sampai akhirnya berhasil menguasai markas Arselan sore harinya. Akan tetapi, sayap kiri dan kanan Byzantine sangat menderita akibat sergapan panah, sampai-sampai hampir mengacaukan formasi. Apalagi jika tentara Byzantine berusaha mendekat untuk menantang tanding jarak dekat, maka kavaleri Seljuk dengan mudahnya menghindar sambil tetap memanah.
Romanos yang tidak dapat memaksa Arselan untuk bertanding jarak dekat (dimana formasi dan jenis tentara Byzantine dapat diuntungkan) memerintahkan tantaranya untuk mundur kembali. Sayang sayap kanan Byzantine salah mengerti dan kekacauanpun terjadi, muncul kesempatan yang tidak disia-siakan oleh Seljuk. Kavaleri Seljuk menyerang secara gencar dari tengah maupun sayap sehingga hampir mengepung total formasi Byzantine. Panik dan kacau, sayap kanan Byzantine segera hancur dan melarikan diri, disusul oleh sayap kirinya juga tidak dapat mempertahankan formasi. Sementara itu, Andronikus Doukas mengabaikan perintah Romanos dan tetap mundur kembali ke markasnya sehingga gerak mundur pasukan utama dibawah Romanos sama sekali tidak terlindungi. Akibatnya bagian tengah formasi Byzantine yang terdiri dari pasukan utama dan Varangian Guard dipimpin oleh Romanos sama sekali terkepung oleh Seljuk.
Romanos terluka dan akhirnya tertangkap, sementara sisa tentaranya melarikan diri dikejar oleh kavaleri Seljuk sepanjang malam. Akan tetapi Arselan tidak berminat mengejar terlalu keras sehingga masih cukup banyak tentara Byzantine dan Panglimanya yang dapat lolos, terutama pasukan cadangan (terdiri dari petani dan budak) yang dipimpin Andronikus, sedangkan pasukan utama Byzantine hancur.
Akhir Perang
Saat Romanus dihadapkan sebagai tawanan, Arselan tidak menyangka jika orang yang penuh darah dan luka tertutup debu tersebut adalah Kaisar Byzantine yang perkasa. Hanya setelah ditunjukkan bukti-bukti, Arselan baru percaya dan terlibat suatu percakapan yang terkenal dalam sejarah dengan Romanos :
Arselan : “Apa yang akan kau lakukan jika Aku yang menjadi tawananmu?”
Romanos : ”Mungkin Aku akan membunuhmu, atau menghinakanmu di jalanan Constantinople.”
Arselan : ”Hukumanku jauh lebih berat dari itu, Aku membebaskan dan melepaskanmu.”
Setelah Sultan Seljuk tersebut menempatkan alas kakinya di leher Kaisar dan memaksanya untuk mencium lantai, Sultan memperlakukannya dengan penuh kebaikan dan sekali lagi menawarkan perjanjian sebagaimana sebelum perang terjadi. Kaisar Romanos menjadi tahanan selama sepekan, akan tetapi diperlakukan layaknya tamu dan diperbolehkan makan di meja yang sama dengan Arselan. Perjanjian damai pun dibuat, diantaranya berisi :
1. Antioch, Edessa, Hierapolis and Manzikert dipindah tangankan kepada Seljuk.
2. Tebusan sebanyak 10 juta keping emas, yang ditanggapi keberatan oleh Kaisar sehingga diturunkan menjadi 1.5 juta keping emas sebagai uang muka dan 300.000 keping emas harus diserahkan setiap tahunnya.
3. Kaisar harus menikahkan putrinya dengan Arselan.
Selanjutnya, Kaisar dipersilahkan pulang dengan membawa banyak bingkisan berharga dan diiringi oleh dua Emir dan seratus Mameluk. Romanos berkumpul lagi dengan sisa tentaranya dan bergerak menuju Constantinople yang ditemuinya dalam keadaan kacau karena sebelumnya Andronicus Doukas sudah pulang duluan kemudian memproklamirkan dirinya sebagai Kaisar dengan gelar Michael VII Basileus.
Romanos berusaha menggalang dukungan dari pendukung setianya, akan tetapi sebanyak tiga kali dia dikalahkan oleh keluarga Doukas dan akhirnya diturunkan, dibutakan dan diasingkan di pulau Proti dimana dia meninggal tidak lama setelah itu akibat infeksi pada matanya.
Arti penting perang
- Tetap, kepandaian dalam menyusun strategi dan mengeksploitasi kelebihan pihak sendiri serta kelemahan pihak lawan sangat menentukan jalannya pertempuran. Seperti kata Sun Tzu, ”Jika kau mengetahui dirimu dan lawanmu maka kau tidak akan kalah dalam setiap pertempuran”. Dalam hal ini Arselan memanfaatkan kelebihan pasukannya dalam bertempur jarak jauh (mengingat sebagian besar tentarnya merupakan kavaleri pemanah) dan menghindari pertempuran jarak dekat, kecuali setelah formasi musuh kacau.
- Akhir perang menempatkan Turki Seljuk mendapatkan pintu masuk ke gerbang Anatolia dimana nantinya akan dimanfaatkan oleh Turki Utsmani untuk menguasai Anatolia dan terus mendesak sampai jatuhnya Constantinople.
- Sementara itu, terjadi coup de etat di Byzantine, Andronikus Doukas (Michael VII) menurunkan Romanos sebagai Kaisar. Jangan sekali-kali menempatkan orang yang tidak setia pada posisi yang strategis.
- Untuk beberapa tahun ke depan, Byzantine tidak mampu menghalangi berkembangnya wilayah kekuasan Islam. Sehingga di kalangan eropa barat beredar opini bahwa Byzantine sudah tidak dapat diharapkan sebagai pelindung kota suci Jerusalem, dan ini segera terbukti dengan permintaan bantuan dari Byzantine kepada Paus sehingga melahirkan Perang Salib yang pertama.
